Bolehkah Mengharap Kematian?

Berharap kematian datang menjemput - Sulitnya menjalani kehidupan dan gencarnya fitnah yang menerpa kaum muslimin tak sedikit membuat seorang muslim putus ada dalam menghadapinya, hingga terkadang terbersit dalam hati bahkan terucap "lebih baik aku mati daripada menghadapi ini" laa hawla wa laa quwwata illaa billah, bolehkah seorang muslim bersikap demikian? Mari kita simak pennelasannya berikut ini. 

mengharap kematian, bolehkah?

Bulughul Maram Kitab Jenazah
hadits no 494 bulughul marom, mengharap kematian

Tafsir Hadits
Hadits ini dalil yang melarang orang untuk mengharapkan kematian disebabkan bala' dan fitnah yang menimpanya, atau karena ketakutan terhadap musuh, sakit atau kehilangan harta benda dan semacamnya yang meliputi problema kehidupan, karena hal itu menunjukkan tidak sabar terhadap qadha, serta tidak ridha atas keputusan Allah.

Dalam ucapan, "Musibah yang menimpanya..." memberikan petunjuk bahwa jika bukan karena hal tersebut seperti karena khawatir fitnah dalam agama, maka tidak mengapa ia menginginkan kematian. Hal ini ditunjukkan oleh hadits berikut, 

«إذَا أَرَدْت بِعِبَادِك فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إلَيْك غَيْرَ مَفْتُونٍ»
"Jika Engkau menginginkan pada hamba-Mu fitnah, maka ambillah aku kehadirat-Mu tanpa terfitnah." [Shahih: At Tirmidzi 3235]

Atau karena mengharapkan mati syahid sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Rawahah dan lainnya dari shahabat terdahulu sebagaimana juga ucapan Maryam dalam ayat berikut,

{يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا}
"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini." (QS. Maryam: 23)

Sesungguhnya ia mengharapkan kematian ini karena takut dari kekufuran dari orang yang kafir dan permusuhan dari orang yang bermusuhan karenanya.

Ucapan, "Dan jika ia harus menginginkan kematian..." yakni jika sempit dadanya dan hilang kesabarannya, maka ia harus kembali kepada doa ini dan jika tidak, maka lebih baik baginya untuk tidak melakukan hal tersebut.

Demikian semoga bermanfaat dan semakin menambah keimanan kita.

Sumber : 
- Subulus Salam syarah Bulughul Maram

No comments:

Post a Comment